semoga laporan ini dapat berguna untuk teman-teman yang sedang melakukan pratikum .tetap semangat karena tuhan melihat prosesnya manusia melihat hasil.
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ikan merupakan
mahluk hidup bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin
(poikilothermal), hidup dalam lingkungan air, gerakan dan keseimbangan badannya
menggunakan sirip dan umumnya bernafas dengan insang.
Keingintahuan atas kehidupan
ikan baik di perairan darat maupun di perairan laut, mendorong manusia untuk
mengadakan penelitian untuk mengungkap seluk – beluk kehidupan ikan. Dari abad
5 SM, Aristoteles telah mulai mengelompokkan makhluk hidup dalam dua kelompok,
yakni dunia Hewan (Animalia) dan dunia Tumbuhan (Plantae). Seiring kebutuhan
manusia akan informasi yang lebih detail, penelitian dalam bidang perikanan
menjadi semakin lengkap di era modern ini.
(Saanin, 1984 dalam Zandi,
2012) menyatakan untuk mengidentifikasi ikan
harus diperhatikan sifat-sifatnya, tanda-tanda dan bentuk serta bagian-bagian
dari tubuh ikan yaitu rumus sirip, perbandingan panjang dengan tinggi, bentuk
garis rusuk dan jumlah garis sisik yang meliputi garis rusuk tersebut bentuk sisik
dan gigi beserta susunan tulang-tulang insang. Menurut Kottelat et al (1992 dalam Martuah, 2011), bentuk badan
ikan dapat memberikan informasi yang meyakinkan mengenai ekologi dan perilakunya. Sistim
anatomi ikan secara garis besar dapat dikatakan sama, tetapi karena habitat
atau tepat hidupnya berbeda, tidak jarang sistim anatomi ikan terssebut dapat
termodifikasi baik bentuk dan fungsinya.
Praktikum linnea lateralis,
perhitungan sisik dan morphometrik ikan ini diharapkan dapat meningkatkan
efisiensi dalam usaha mengklasifikasi ikan bagi peneliti dan mahasiswa serta
menambah khazanah ilmu bagi para mahasiswa. Diharapkan kemajuan informasi ini
dapat didayagunakan dengan arif dan efektif, agar dapat bermanfaat bagi para
peneliti, nelayan dan seluruh civitas di dunia perikanan.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pratikum Perhitungan Meristik Ikan adalah meningkatkan pemahaman praktikan dalam mempelajari ikan khususnya menghitung jari – jari sirip ikan, susunan linea
lateralis, bentuk linea lateralis, dan jumlah sisik Manfaat
dari pratikum ini adalah
praktikan dapat mengetahui bagaimana cara perhitungan meristik pada
tubuh ikan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Linnea
lateralis pada ikan adalah suatu garis pada tubuh yang dibentuk oleh pori, jadi
linnea lateralis ini dapat ditemukan pada ikan yang bersisik maupun yang tidak
bersisik. Bentuk linnea lateralis umumnya bervariasi demikian juga jumlah sisik
yang membentuk linnea lateralis (Manda,et.al,
2013).
Sirip pada ikan terdiri dari sirip punggung atau dorsal
(D), sirip dada atau sirip pectoral (P), sirip perut atau sirip ventral (V),
sirip anus atau anal (A), dan sirip ekor atau sirip caudal (C), dari kelima
sirip tersebut ada yang bersifat ganda seperti sirip perut dan sirip dada, ada
juga yang bersifat tunggal seperti sirip punggung dan sirip ekor. Tidak semua
jenis ikan yang ada dimuka bumi mempunyai kelima sirip tersebut secara
sempurna, melainkan ada yang tidak sempurna atau lengkap. Jari jari sirip pada
kelima sirip tersebut ada yang disebut jari jari lunak, jari jari keras, jari
jari lemah mengeras (Manda et al, 2013).
Menurut Kottelat et al (1992 dalam Martuah,
2011), bentuk badan ikan dapat memberikan informasi
yang meyakinkan mengenai ekologi dan perilakunya. Sistim
anatomi ikan secara garis besar dapat dikatakan sama, tetapi karena habitat
atau tepat hidupnya berbeda, tidak jarang sistim anatomi ikan terssebut dapat
termodifikasi baik bentuk dan fungsinya.
Saanin (1984 dalam Martuah, 2011) mengatakan bahwa
untuk mengidentifikasi ikan harus diperhatikan tanda – tanda, bentuk dan bagian
bentuk tubuh ikan yaitu rumus sirip, perbandinan panjang dan tinggi, bentuk
garis rusuk tersebut, bentuk sisik dan gigi beserta susunannya, tulang ingsang.
Oleh karena itu satu macam ikan berbeda besarnya disebabkan oleh umur atau
kadang – kadang oleh tempat hidupnya.
Jumlah sisik pada ikan dapat ditemui didepan sirip punggung, yaitu jumlah
sisik yang dilalui oleh garis yang ditarik dari permulaan sirip punggung sampai
ke belakang kepala, jumlag sisik juga terdapat pada pipi yaitu jumlah baris
sisik yang dilalui oleh garis yang ditarik dari mata sampai ke sudut
preoperculum, jumlah sisik disekeliling badan, jumlah sisik batang ekor, jumlah
sisik pada garis rusuk, dan jumlah sisik atas dan bawah garis rusuk (Kottelat
et al, 1993 dalam Anonim, 2006)
Menurut Rahardjo (1985
dalam Anonim, 2011), berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung di dalam
sisik, sisik dapat di bagi menjadi lima jenis yaitu:
1. Sisik Ganoid
Sisik yang memiliki
lapisan terluar yang tersusun dari garam garam ganoid, Sisik jenis ini
memiliki tiga lapisan, yaitu:
a.
Gonoide (garam garam anorganikyang sangat kers)
b.
Cosmid (lapisan non seluler yang sangat kuat)
c.
Isopedine (didalamnya terdapat pembulu darah kecil)
2. Sisik
Cosmoid
Ialah terdiri dari
beberapa lapis, yaitu sisik yang memiliki bagian terluar disebut vitrodentilie
(dilapisi semacam enamel), lapisan bawahnya disebut cosinine ( merupakan
lapisan yang kuat dan nonceluller) dan bagian terdalam terdapat pemlbuluh
darah, syaraf dan substansi tulang isopedine. Sisik jenis ini umumnya hanya
terdapat pada jenis ikan fosil dan ikan primitive atau iakan ikan jenis kuno.
3. Sisik Placoid
Mirip bungga mawar dengan
dasar bulat atauersegi (bujur sangkar). Memiliki bagian yang menonjol seperti
duri yang muncul dari epidermis dan terletak merambah ke belakang di bawah
kulit.
4. Sisik Ctenoid
Merupakan sisik yang
memiliki stenii pada bagian posteriornya dan bentukan sisir pada bagian
anteriornya,
5. Sisik Cycloid
Merupakan sisik yang
bentuknya melingkar, yaang mempunyai linkaran tipis dan transparan yang
didalamnya terdapat garis-garis melingkar disebut circulii, anulii, radii, dan
focus serta pada bagian belakang mempunyai gerigi.
Susanto (1994 dalam Triana,
2004) mengemukakan
bahwa ikan Tambakan (Helostoma
temmincki) yang memiliki ciri-ciri dengan bentuk tubuh gepeng dan agak
tebal serta badan dan kepala ditutupi oleh sisik yang kasar yang berwarna putih
kehijau-hijauan.
Saanin (1984 dalam Triana, 2004)
menjelaskan tentang klasifikasi Belut (Monopterus albus) Phylum Chordata,
Kelas : Pisces, Sub kelas : Teleostei, Ordo : Synbranchoidea, Filum :
Synbranchidae, Genus : Monopterus, Spesies : Monopterus
albus.
Saanin (1984 dalam Triana, 2004) menyatakan bahwa ikan Betok termasuk Ordo Labirinthici, Famili Anabantidae, Genus
Anabas dan Spesies Anabas testudineus. Terdapat di daerah pantai dan estuaria (Alleyne & Macleay, 1877 dalam Triana, 2004).
II. BAHAN DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Ikhtiologi mengenai “ Perhitungan Meristik Ikan ” dilaksanakan pada hari Senin tanggal 12 Mei 2014, bertempat di Laboratorium Biologi Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Riau Jalan Bina Widya Km 12,5
Panam, Pekanbaru.
3.2. Bahan dan Alat
Adapun
bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum “ Perhitungan Meristik Ikan ” adalah Ikan ingir ingir (Mystus Migrieps) Ikan Bawal Putih (Stromateus cinereus), Ikan Kapiek (Barbodes schwanefeldi), belut (Monoplerus albus), ikan nilem (osteochilus hasselti)
3.3. Metode Praktikum
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah pengamatan
secara langsung pada ikan yang di
praktikumkan. Semua hal yang menyangkut dan berhubungan dengan perhitungan
meristik ikan harus diperhatikan dan diamati dengan teliti.
3.4. Prosedur Praktikum
Dalam praktikum ini pertama sekali kita mengamati ikan yang
telah ditentukan untuk dipraktikumkan. Ikan yang telah diletakkan di atas nampan untuk diamati kemudian di gambar
morfologinya dibuku penuntun praktikum ikhtiologi lengkap dengan klasifikasinya. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan
perhitungan jumlah jari – jari sirip yang terdiri dari jari
– jari lemah, jari – jari lemah mengeras dan jari – jari keras. Sebelum
menghitung jari – jari tersebut, praktikan harus benar – benar mengetahui
masing – masing dari jenis jari – jari sirip pada ikan yang dipraktikumkan.
Setelah menghitung jari – jari sirip, praktikan melakukan pengamatan tentang
susunan linea lateralis. Praktikan menentukan susunan linea lateralis apa yang
terdapat pada ikan yang diamati, lengkap dan sempurna, lengkap tetapi tidak
sempurna, atau tidak lengkap. Kemudian, menentukan bentuk linea lateralis. Dan
terakhir menghitung jumlah sisik pada ikan, jika ikan yang diamati oleh
praktikan termasuk dalam ikan yang bersisik.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Berikut ini hasil perhitungan
meristik jenis ikan. Terdiri
dari Ikan Bawal Putih dan Ikan Baung yang telah diamati pada saat
praktikum di laboratorium :
4.1. 1. Ikan ingir ingir(Mystus
Migrieps)
Gambar1. Ikan Ikan ingir
ingir(Mystus Migrieps)
Keterangan: 1. Sirip Pectoral/dada
2. Sirip dorsal/punggung
3. Sirip Ventral/perut
4. Sirip Anal/Anus
5. Sirip Caudal/ekor
Ikan
ingir ingir(Mystus Migrieps) adalah
Ikan yang habitatnya berada di perairan tawar.
4.1.3. ikan nilem (osteochilus hasselti)
Gambar 3. ikan nilem (osteochilus hasselti)
Ikan ikan nilem (osteochilus hasselti) adalah ikan yang habitatnya berada di perairan tawar.
Klasifikasi Ikan nilem adalah, phylum Chordata, kelas Pisces, ordo ostorophisi, famili ciprinidae , Genus osteochilus
dan Spesies osteochilus hasselti
4.2.1. Ingir ingir
Ikan Ingir ingir tergolong kedalam keluarga Mystus, Jumlah sungut tiga
pasang, memiliki sirip lemak, bentuk tubuh hamper sama dengan ikan baung, dan
ikan selais, bentuk ekor berjagak (forked), memiliki dua buah sirip punggung,
tidak memiliki sisik.
4.1.2. Ikan Belut
Ikan ini tidak memiliki sisik,jari-jari sirip lemah.
Susunan linea lateralis lengkap dan sempurna,bentuk linea lateralis garis lurus
atas horizontal mulut dari sudut atas operculum sampai pertengahan,sirip ekor
jumlah linea lateralis satu garis.
4.1.3. ikan Nilam
Ikan ini memiliki sisik,jari-jari keras ,keras
melemah dan susunan lateralis lengkap sempurna bentuk linea lateralis garis
lurus atau horizintal,baris sisik jumlah 21 memiliki 2 pasang sungut. Jumlah
sisik di sekeliling badan 13. Jumlah sisik batang ekor 7.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Setiap ikan memiliki keadaan tubuh yang sesuai dengan
bagaimana caranya hidup didalam lingkungannya. Tiap spesies ikan mempunyai
ciri-ciri yang berbeda antara spesies yang satu dengan spesies yang lain. Salah
satu perbedaan dapat dilihat dari jumlah
jari – jari sirip, susunan linea
lateralis, bentuk linea lateralis, dan jumlah sisik pada ikan.
Dari hasil praktikum di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa tidak semua
ikan yang terdapat di alam mempunyai
kelima sirip tersebut di atas secara sempurna. Serta terdapat juga perbedaan yang mendasar rmengenai jumlah jari-jari keras, lemah
mengeras, dan lemah dari sirip ikan tersebut.
5.2. Saran
Dalam
pelaksanaan praktikum, hendaknya praktikan melakukan pengamatan secara spesifik dan lebih
berhati-hati, dalam hal perhitungan jumlah dan jenis jari – jari pada ikan
yang diamati, bentuk dan susunan linea lateralis, dan jumlah sisikn, agar tidak terjadi kesalahan
dan dapat memperoleh hasil yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Manda,
R., I. Lukystiowati, C. Pulungan dan Budijono. 2011. Penuntun Praktikum
Ichtyology. Universitas Riau.
Pekanbaru.
Martuah, 2011. Laporan Praktikum
Ikhtiologi. Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak
diterbitkan
Triana, 2004. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan
Anonim, 2006. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan
Anonim, 2011. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan
Erwan, 2013. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan
DAFTAR
LAMPIRAN
Lampiran 1. Alat – alat
yang digunakan pada praktikum penggolongan, bentuk tubuh dan bagian luar tubuh
ikan.


1.
Pengaris
2. Pena


3. Pensil
4.
Penghapus


5.
Nampan
/ Baki
6.
Serbet
7. Buku
Gambar Pratikum