Rabu, 13 Juli 2016

Pekanbaru, Ragamriau.com - H. Jufri Zubir mengaku sangat mendukung electronic sport (e-sport) yang sekarang ini sedang digandrungi oleh anak muda di dunia. Hal tersebut diungkapkan oleh H. Jufri Zubir saat melepas Team FIFA Online 3 yang berangkat ke Jakarta mewakili Pekanbaru dan Riau (25/06/2016) di basecamp salah komunitas gamers di Pekanbaru.
Jufri mengungkapkan bahwa, kreatifitasanak zaman sekarang tentu sangat berbeda dengan anak-anak dahulu. Jika zaman dulu segala permainan dimainkan secara manual, maka saat sekarang semuanya telah mulai online.
“Saya kira, segala sesuatu itu mempunyai dampak positif dan negatif. Jika kita mau memfokuskan arah dan tujuan generasi muda sekarang, dalam hal pemanfaatan teknologi, maka hasilnya akan positif. Di Eropa, China dan bahkan negara tetangga kita, Malaysia ataupun Singapore, e-sportmerupakan salah satu industri yang sedang dimajukan. Bahkan, saya diberitahu beberapa waktu lalu, ada kejuaraan game yang namanya DOTA 2 di Manila berhadiahkan puluhan juta US Dollar,” terangnya.
Menurutnya, jika penyelenggara saja sudah memberikan hadiah yang jika dikonfersi ke mata uang Rupiah sekitar puluhan milyar Rupiah, maka sudah barang tentu uang yang masuk ke penyenggara ataupun negara pastilah berlebih. Dan hal yang paling penting adalah, penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak di event-event tersebut.
Saat disinggung dampak negatif game online, dirinya menjawab jika segala seuatu yang berlebihan sudah pasti negatif. “Sesuatu yang berlebihan itu sudah pasti banyak mudhorotnya. Bahkan, makan saja kalau sudah berlebih, ya sakit juga. Ini yang saya maksudkan dengan misi industrialisasi e-sport. Kreatifitas jika diindustrikan secara terkontrol, maka akan banyak mendapatkan hal positif. Jika semua anak muda sibuk memikirkan kelanjutan kreatifitasnya, maka sudah barang tentu perbuatan negatif kan berkurang. Dari itulah, jika saya diamanatkan memimpin kota Pekanbaru ini, kota-kota satelit semoga bisa menjawabnya. Sudut-sudut kota, jika sudah ada daerah resapan air, taman-taman yang indah, ruang kreasi, maka banyak hal-hal baik bernaung disana,” tandasnya.

Senin, 19 Mei 2014

semoga laporan ini dapat berguna untuk teman-teman yang sedang melakukan pratikum .tetap semangat karena tuhan melihat prosesnya manusia melihat hasil.



I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Ikan merupakan mahluk hidup bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin (poikilothermal), hidup dalam lingkungan air, gerakan dan keseimbangan badannya menggunakan sirip dan umumnya bernafas dengan insang.
Keingintahuan atas kehidupan ikan baik di perairan darat maupun di perairan laut, mendorong manusia untuk mengadakan penelitian untuk mengungkap seluk – beluk kehidupan ikan. Dari abad 5 SM, Aristoteles telah mulai mengelompokkan makhluk hidup dalam dua kelompok, yakni dunia Hewan (Animalia) dan dunia Tumbuhan (Plantae). Seiring kebutuhan manusia akan informasi yang lebih detail, penelitian dalam bidang perikanan menjadi semakin lengkap di era modern ini.
(Saanin, 1984 dalam Zandi, 2012) menyatakan untuk mengidentifikasi ikan harus diperhatikan sifat-sifatnya, tanda-tanda dan bentuk serta bagian-bagian dari tubuh ikan yaitu rumus sirip, perbandingan panjang dengan tinggi, bentuk garis rusuk dan jumlah garis sisik yang meliputi garis rusuk tersebut bentuk sisik dan gigi beserta susunan tulang-tulang insang. Menurut Kottelat et al (1992 dalam Martuah, 2011), bentuk badan ikan dapat memberikan informasi yang meyakinkan mengenai ekologi dan perilakunya. Sistim anatomi ikan secara garis besar dapat dikatakan sama, tetapi karena habitat atau tepat hidupnya berbeda, tidak jarang sistim anatomi ikan terssebut dapat termodifikasi baik bentuk dan fungsinya.
Praktikum linnea lateralis, perhitungan sisik dan morphometrik ikan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam usaha mengklasifikasi ikan bagi peneliti dan mahasiswa serta menambah khazanah ilmu bagi para mahasiswa. Diharapkan kemajuan informasi ini dapat didayagunakan dengan arif dan efektif, agar dapat bermanfaat bagi para peneliti, nelayan dan seluruh civitas di dunia perikanan.
1.2. Tujuan dan Manfaat
            Tujuan dari pratikum Perhitungan Meristik Ikan adalah meningkatkan pemahaman praktikan dalam mempelajari ikan khususnya menghitung jari – jari sirip ikan, susunan linea lateralis, bentuk linea lateralis, dan jumlah sisik     Manfaat dari pratikum ini adalah praktikan dapat mengetahui bagaimana cara perhitungan meristik pada tubuh ikan.












II. TINJAUAN PUSTAKA
Linnea lateralis pada ikan adalah suatu garis pada tubuh yang dibentuk oleh pori, jadi linnea lateralis ini dapat ditemukan pada ikan yang bersisik maupun yang tidak bersisik. Bentuk linnea lateralis umumnya bervariasi demikian juga jumlah sisik yang membentuk linnea lateralis (Manda,et.al, 2013).
Sirip  pada ikan terdiri dari sirip punggung atau dorsal (D), sirip dada atau sirip pectoral (P), sirip perut atau sirip ventral (V), sirip anus atau anal (A), dan sirip ekor atau sirip caudal (C), dari kelima sirip tersebut ada yang bersifat ganda seperti sirip perut dan sirip dada, ada juga yang bersifat tunggal seperti sirip punggung dan sirip ekor. Tidak semua jenis ikan yang ada dimuka bumi mempunyai kelima sirip tersebut secara sempurna, melainkan ada yang tidak sempurna atau lengkap. Jari jari sirip pada kelima sirip tersebut ada yang disebut jari jari lunak, jari jari keras, jari jari lemah mengeras (Manda et al, 2013).
Menurut Kottelat et al (1992 dalam Martuah, 2011), bentuk badan ikan dapat memberikan informasi yang meyakinkan mengenai ekologi dan perilakunya. Sistim anatomi ikan secara garis besar dapat dikatakan sama, tetapi karena habitat atau tepat hidupnya berbeda, tidak jarang sistim anatomi ikan terssebut dapat termodifikasi baik bentuk dan fungsinya.
Saanin (1984 dalam Martuah, 2011) mengatakan bahwa untuk mengidentifikasi ikan harus diperhatikan tanda – tanda, bentuk dan bagian bentuk tubuh ikan yaitu rumus sirip, perbandinan panjang dan tinggi, bentuk garis rusuk tersebut, bentuk sisik dan gigi beserta susunannya, tulang ingsang. Oleh karena itu satu macam ikan berbeda besarnya disebabkan oleh umur atau kadang – kadang oleh tempat hidupnya.
Jumlah sisik pada ikan dapat ditemui didepan sirip punggung, yaitu jumlah sisik yang dilalui oleh garis yang ditarik dari permulaan sirip punggung sampai ke belakang kepala, jumlag sisik juga terdapat pada pipi yaitu jumlah baris sisik yang dilalui oleh garis yang ditarik dari mata sampai ke sudut preoperculum, jumlah sisik disekeliling badan, jumlah sisik batang ekor, jumlah sisik pada garis rusuk, dan jumlah sisik atas dan bawah garis rusuk (Kottelat et al, 1993 dalam Anonim, 2006)
Menurut Rahardjo (1985 dalam Anonim, 2011), berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung di dalam sisik, sisik dapat di bagi menjadi lima jenis yaitu:
1. Sisik Ganoid
Sisik yang memiliki lapisan terluar yang tersusun dari garam garam ganoid, Sisik jenis ini memiliki tiga lapisan, yaitu:
a.       Gonoide (garam garam anorganikyang sangat kers)
b.      Cosmid (lapisan non seluler yang sangat kuat)
c.       Isopedine (didalamnya terdapat pembulu darah kecil)
2. Sisik Cosmoid
Ialah terdiri dari beberapa lapis, yaitu sisik yang memiliki bagian terluar disebut vitrodentilie (dilapisi semacam enamel), lapisan bawahnya disebut cosinine ( merupakan lapisan yang kuat dan nonceluller) dan bagian terdalam terdapat pemlbuluh darah, syaraf dan substansi tulang isopedine. Sisik jenis ini umumnya hanya terdapat pada jenis ikan fosil dan ikan primitive atau iakan ikan jenis kuno.


3. Sisik Placoid
Mirip bungga mawar dengan dasar bulat atauersegi (bujur sangkar). Memiliki bagian yang menonjol seperti duri yang muncul dari epidermis dan terletak merambah ke belakang di bawah kulit.
4. Sisik Ctenoid
Merupakan sisik yang memiliki stenii pada bagian posteriornya dan bentukan sisir pada bagian anteriornya,
5. Sisik Cycloid
Merupakan sisik yang bentuknya melingkar, yaang mempunyai linkaran tipis dan transparan yang didalamnya terdapat garis-garis melingkar disebut circulii, anulii, radii, dan focus serta pada bagian belakang mempunyai gerigi.
Susanto (1994 dalam Triana, 2004) mengemukakan bahwa ikan Tambakan (Helostoma temmincki) yang memiliki ciri-ciri dengan bentuk tubuh gepeng dan agak tebal serta badan dan kepala ditutupi oleh sisik yang kasar yang berwarna putih kehijau-hijauan.
Saanin (1984 dalam Triana, 2004) menjelaskan tentang klasifikasi Belut (Monopterus albus) Phylum Chordata, Kelas : Pisces, Sub kelas : Teleostei, Ordo : Synbranchoidea, Filum : Synbranchidae, Genus : Monopterus, Spesies :    Monopterus albus.
Saanin (1984 dalam Triana, 2004) menyatakan bahwa ikan Betok termasuk  Ordo Labirinthici, Famili Anabantidae, Genus Anabas dan Spesies Anabas testudineus. Terdapat di daerah pantai dan estuaria (Alleyne & Macleay, 1877 dalam Triana, 2004).

II. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Ikhtiologi mengenai “ Perhitungan Meristik Ikan ” dilaksanakan pada hari Senin tanggal 12 Mei 2014, bertempat di Laboratorium Biologi Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Jalan Bina Widya Km 12,5 Panam, Pekanbaru.
3.2. Bahan dan Alat
            Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum “ Perhitungan Meristik Ikan adalah Ikan ingir ingir (Mystus Migrieps) Ikan Bawal Putih (Stromateus cinereus), Ikan Kapiek (Barbodes schwanefeldi), belut (Monoplerus albus), ikan nilem (osteochilus hasselti)
            Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah nampan untuk meletakan ikan, penggaris untuk pengukur panjang, tinggi dan lebar ikan, buku penuntun pratikum untuk menggambar ikan dan menjadi pedoman mengenai hal – hal tentang ikan yang dipraktikumkan, serbet untuk membersihkan tangan, masker untuk menutup bagian mulut dan hidung agar terhindar dari bau formalin, sarung tangan untuk melindungi tangan agar terhindar dari formalin pada saat memegang ikan, serta alat tulis berupa pensil dan pena untuk menggambar dan menulis keterangan gambar.




3.3. Metode Praktikum
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah pengamatan secara langsung pada ikan yang di praktikumkan. Semua hal yang menyangkut dan berhubungan dengan perhitungan meristik ikan harus diperhatikan dan diamati dengan teliti.
3.4. Prosedur Praktikum
Dalam praktikum ini pertama sekali kita mengamati ikan yang telah ditentukan untuk dipraktikumkan. Ikan yang telah diletakkan di atas nampan untuk diamati kemudian di gambar morfologinya dibuku penuntun praktikum ikhtiologi lengkap dengan  klasifikasinya. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan perhitungan jumlah jari – jari sirip yang terdiri dari jari – jari lemah, jari – jari lemah mengeras dan jari – jari keras. Sebelum menghitung jari – jari tersebut, praktikan harus benar – benar mengetahui masing – masing dari jenis jari – jari sirip pada ikan yang dipraktikumkan. Setelah menghitung jari – jari sirip, praktikan melakukan pengamatan tentang susunan linea lateralis. Praktikan menentukan susunan linea lateralis apa yang terdapat pada ikan yang diamati, lengkap dan sempurna, lengkap tetapi tidak sempurna, atau tidak lengkap. Kemudian, menentukan bentuk linea lateralis. Dan terakhir menghitung jumlah sisik pada ikan, jika ikan yang diamati oleh praktikan termasuk dalam ikan yang bersisik.     



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Berikut ini hasil perhitungan meristik jenis ikan. Terdiri dari Ikan Bawal Putih dan Ikan Baung yang telah diamati pada saat praktikum di laboratorium :
4.1. 1. Ikan ingir ingir(Mystus Migrieps)





Gambar1. Ikan Ikan ingir ingir(Mystus Migrieps)

Keterangan:    1. Sirip Pectoral/dada
2. Sirip dorsal/punggung
3. Sirip Ventral/perut
4. Sirip Anal/Anus
5. Sirip Caudal/ekor
            Ikan ingir ingir(Mystus Migrieps)  adalah Ikan yang habitatnya berada di perairan tawar.
            Klasifikasi Ikan ingir ingir adalah Phylum Chordata, kelas  osteichthyes, ordo siluri formes, famili mystus  , Genus ,dan Spesies Mystus Migrieps.


Tabel 1. Hasil Perhitungan Jari – Jari Sirip Ikan ingir ingir
NO
Meristik Ikan
1
D.VIII.7.1
2
P.XII.2
3
A.5
4
C.19f
5
V.10

4.1.2. Ikan belut (Monopterus Albus )







Gambar 2. Ikan Belut (Monopterus Albus)
            Ikan belut (Monopterus Albus) adalah ikan yang habitatnya berada di perairan tawar.
            Klasifikasi Ikan Baung adalah, phylum Chordata, kelas  Pisces, ordo Synbronchi formes, famili Synbranchidae , Genus Monopterus dan Spesies Monopterus Albus.



4.1.3. ikan nilem (osteochilus hasselti)








Gambar 3. ikan nilem (osteochilus hasselti)
            Ikan ikan nilem (osteochilus hasselti) adalah ikan yang habitatnya berada di perairan tawar.
            Klasifikasi Ikan nilem adalah, phylum Chordata, kelas  Pisces, ordo ostorophisi, famili ciprinidae , Genus osteochilus
 dan Spesies osteochilus hasselti
.




Tabel 2. Hasil Perhitungan Jari – Jari Sirip Ikan Nilem
NO
Meristik Ikan
1
D,II,16
2
P,I,7,2
3
V,I,7,1
4
A.II
5
K,II,8



4.2. Pembahasan
4.2.1. Ingir ingir
Ikan Ingir ingir tergolong kedalam keluarga Mystus, Jumlah sungut tiga pasang, memiliki sirip lemak, bentuk tubuh hamper sama dengan ikan baung, dan ikan selais, bentuk ekor berjagak (forked), memiliki dua buah sirip punggung, tidak memiliki sisik.
4.1.2. Ikan Belut
Ikan ini tidak memiliki sisik,jari-jari sirip lemah. Susunan linea lateralis lengkap dan sempurna,bentuk linea lateralis garis lurus atas horizontal mulut dari sudut atas operculum sampai pertengahan,sirip ekor jumlah linea lateralis satu garis.
4.1.3. ikan Nilam
Ikan ini memiliki sisik,jari-jari keras ,keras melemah dan susunan lateralis lengkap sempurna bentuk linea lateralis garis lurus atau horizintal,baris sisik jumlah 21 memiliki 2 pasang sungut. Jumlah sisik di sekeliling badan 13. Jumlah sisik batang ekor 7.



V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
            Setiap ikan memiliki keadaan tubuh yang sesuai dengan bagaimana caranya hidup didalam lingkungannya. Tiap spesies ikan mempunyai ciri-ciri yang berbeda antara spesies yang satu dengan spesies yang lain. Salah satu  perbedaan dapat dilihat dari jumlah jari – jari sirip,  susunan linea lateralis, bentuk linea lateralis, dan jumlah sisik pada ikan.
Dari hasil praktikum di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa tidak semua ikan yang terdapat di alam mempunyai kelima sirip tersebut di atas secara sempurna. Serta terdapat juga perbedaan yang mendasar rmengenai jumlah jari-jari keras, lemah mengeras, dan lemah dari sirip ikan tersebut.
5.2. Saran
            Dalam pelaksanaan praktikum, hendaknya praktikan melakukan pengamatan secara spesifik dan lebih berhati-hati, dalam hal perhitungan jumlah dan jenis jari – jari pada ikan yang diamati, bentuk dan susunan linea lateralis, dan  jumlah sisikn, agar tidak terjadi kesalahan dan dapat memperoleh hasil yang maksimal.






DAFTAR PUSTAKA
Manda, R., I. Lukystiowati, C. Pulungan dan Budijono. 2011. Penuntun Praktikum Ichtyology. Universitas Riau. Pekanbaru.
Martuah, 2011. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan
Triana, 2004. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan
Anonim, 2006. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan
Anonim, 2011. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan
Erwan, 2013. Laporan Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. Tidak diterbitkan



  








 






DAFTAR LAMPIRAN






Lampiran 1. Alat – alat yang digunakan pada praktikum penggolongan, bentuk tubuh dan bagian luar tubuh ikan.
CAM00096CAM000951.  Pengaris                                                      2. Pena


CAM00098CAM000473. Pensil                                                           4. Penghapus  



CAM00099CAM000435.  Nampan / Baki                                           6. Serbet




7. Buku Gambar Pratikum


CAM00103